Sunday, 7 June 2009

Selenocosmia javanensis dari Sawiran


Jalan-jalan kelas XI-IA3 ke Sawiran ternyata cukup membawa berkah bagi saya. Pada hari kedua di malam hari saya berhasil menangkap seekor laba-laba berbulu (dugaan sementara saya Selenocosmia javanensis) yang sedang berlari di ruang makan sementara saya asyik membaca buku di sana. Saya sengaja tidak memberitahu siapapun tentang laba-laba ini karena pasti akan menimbulkan kepanikan. Saya mengambil botol air mineral (bukan AQUA tapi AQUASE), melubanginya, dan memasukkan makhluk itu ke dalamnya. Ini adalah foto di rumah setelah saya memasukkannya ke dalam container plastik. Selain itu, saya juga menangkap beberapa kumbang dan capung unik dari Sawiran, total ada 22 ekor. Nanti saya posting lagi setelah proses identifikasinya selesai!

Pandinus Imperator Breeding Project



Ini adalah beberapa gambar kalajengking Pandinus imperator yang saya pelihara dan ternakkan. Gambar pertama adalah gambar indukan yang sudah saya prediksi akan segera menjadi "seekor ibu", sementara gambar kedua adalah ketika anaknya sudah "lahir" dan digendong di punggungnya. Saya segera memindahkannya agar tidak dimakan oleh ibunya sendiri ataupun oleh kalajengking lainnya (lihat gambar ketiga), terhitung ada 18 ekor yang saya taruh di tempat plastik dengan media yang sudah saya persiapkan dua hari sebelumnya. Gambar keempat adalah ketika kalajengking sudah berusia 4 minggu dan warnanya juga sudah berubah menjadi kecoklatan. Gambar kelima adalah gambar ketika kalajengking sudah berusia tujuh minggu (sudah tiga kali mengalami eksdisis / moulting / ganti kulit), perhatikan gambar kelima, di sebelah kalajengking itu ada jangkrik yang menjadi makanan pokoknya dan kulit lama yang ditanggalkan kalajengking tersebut.

Saturday, 16 May 2009

Coleoptera Gunung Arjuno

Selasa, 5 Mei 2009. Hari itu saya, beberapa anggota Biology Science Club (mulai Benny Suryajaya, Kevin Muliawan Soetanto, Regina Ciputra, Ricardo Adrian Nugraha, Michael Lusida, Oen Alina, Audrey Stephanie, dkk), serta siswa non-BSC dari SMAK St. Louis I Surabaya yang total berjumlah 60 siswa berangkat ke Taman Safari Indonesia II di kaki Gunung Arjuno, Pasuruan. Kami hendak belajar mengenai satwa harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) disana.

Ketika bus berhenti untuk pertama kalinya di kantor Taman Safari, beberapa siswa tampak ribut mengerumuni sesuatu. Saya yang pada awalnya penasaran pun mencari tahu apa yang diributkan. Ternyata ada seekor kumbang Chalcosoma moellenkampi jantan yang cukup besar, dalam posisi terbalik. Saya pun menaruhnya di pohon dengan posisi yang benar agar makhluk malang itu tidak menderita. Kemudian saya berkeliling di sekitar sana, wow, ternyata ada banyak kumbang di sana! Saya mengantungi beberapa yang sudah mati, ada 3 Xylotrupes gideon, 2 Chalcosoma atlas, 1 Chalcosoma caucasus, dan beberapa Oryctes rhinoceros.

Di parkiran atas Taman Safari ternyata semakin banyak kumbang yang sudah mati pula, tergeletak di atas rerumputan. Saya pun mengambil 2 buah gelas bekas minuman dan mulai berburu. Akhirnya, saya mendapatkan 9 Xylotrupes gideon, 4 Chalcosoma atlas, 4 Chalcosoma caucasus, 1 Chalcosoma moellenkampi, 1 Dorcus sp, dan 1 Allotopus rosenbergi! Ya, ini pertama kalinya saya melihat ada Allotopus rosenbergi di Jawa Timur! Hmm, sebenarnya saya bisa saja mendapatkan lima puluh kumbang mati, namun sayangnya banyak yang tubuhnya sudah hancur karena terlindas kendaraan yang lewat... Mungkin mending kalau mereka sudah mati, kemudian terlindas kendaraan, namun sangat disayangkan apabila mereka mati karena terlindas kendaraan tersebut, entah mana yang benar... Yang pasti, saya bukan maniak pembunuh yang mengumpulkan serangga dalam jumlah besar! Saya hanya mengumpulkan bangkainya!

Kami sampai di Surabaya kira-kira jam 6 sore, namun saya baru sampai rumah jam 9 malam karena saya memutuskan untuk makan malam di luar bersama teman saya. Sesampainya di rumah saya memaksakan diri untuk melakukan mounting (perentangan) beberapa Xylotrupes gideon, dan dalam 20 menit saja sudah 8 yang berhasil saya mounting. Ada 3 yang saya buka sayapnya, sisanya dalam kondisi sayap tertutup (lihat foto).

Oh ya, saya juga mengambil Xylotrupes gideon betina hidup dari sana, dan sedang saya coba untuk dikawinkan dengan pejantan yang sudah beberapa minggu saya miliki di rumah. Bila breeding project ini berhasil, akan segera saya post di blog ini.

Wednesday, 10 September 2008

Bingung Cari Bahan Praktikum?

Anda bingung ketika disuruh mencari katak, serangga, kelabang, tikus putih, atau mungkin disuruh mengganti preparat awetan yang anda pecahkan di lab sekolah? Kamilah solusinya!
Kami menyediakan berbagai hewan sebagai berikut:
- Katak Rana sp. = @ Rp 1000,- / Rp 5000,- (6 ekor)
- Kodok Bufo sp. = @ Rp 1500,- / Rp 6500,- (6 ekor)
- Kelabang Scolopendra sp. = @ Rp 5000,-
- Mencit / Tikus Putih Mus musculus = @ Rp 5000,- / Rp 100.000,- (21 ekor)
- Preparat Mikrobiologi = @ Rp 35.000,- / Rp 100.000,- (3 buah)
- Preparat Tumbuhan = @ Rp 30.000,- / Rp 100.000,- (4 buah)
- Preparat Hewan = @ Rp 30.000,- / Rp 100.000,- (4 buah)
Awetan serangga, coelenterata, porifera, mollusca, dll. dapat dipesan sesuai keinginan anda dan harga tergantung kesulitan pembuatan.

HUBUNGI SEGERA KAMI di 081933312602.

Saturday, 2 August 2008

Tailed Jay (Graphium agamemnon)







Sebulan ini aku sibuk dengan ulat Graphium agamemnon yang kutemukan di pohon kantil depan rumahku. Ini akan kuberikan tabel klasifikasinya:

Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Sub-Ordo : Macrolepidoptera
Super-Family : Papilionoidea
Family : Papilionidae
Sub-Family : Papilioninae
Genus : Graphium
Species : Graphium agamemnon Linnaeus 1758

Aku menangkap setidaknya 16 ulat dan menempatkan 2 tetap di pohonnya, 4 di rumah kupu-kupu yang ada di belakang rumah, 6 di kaleng plastik bekas cat di dalam rumah, 3 di kamar, dan 1 kutaruh di kantor sekolah di meja Pak Gatot, guru biologi Sinlui yang baru. Dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Telur berwarna kuning muda kecoklatan di bawah daun

2. Telur menetas rata-rata 3-5 hari
3. Masuk instar kedua 9 hari dari menetas (foto paling kiri)
4. Masuk instar ketiga 11 hari dari menetas
5. Masuk instar keempat 13 hari dari menetas (foto kedua dari kiri)
6. Masuk instar kelima 16 hari dari menetas (foto ketiga dari kiri)
7. Pupa berwarna hijau dan dibuat dalam waktu 6 jam (foto keempat dari kiri)
8. Periode dalam pupa adalah 14-17 hari
9. Kemarin, dua telah menjadi imago, dan hari ini menyusul 3 ekor (foto terakhir)
10. Telah saya awetkan sepasang jantan-betina, lainnya telah saya lepaskan di belakang rumah

Menurut penelitian saya, siklus hidup total dari Graphium agamemnon Linnaeus 1758 adalah sepanjang 33-37 hari. Yeah, asyik sekali melihara kupu-kupu! Jauh lebih puas dari hanya memelihara anjing atau kucing!

Friday, 18 July 2008

Kupu-Kupu Gajah (Attacus atlas, Linnaeus 1758)

Kupu-kupu yang dapat mencapai rentang sayap 30 cm ini sering disebut kupu-kupu gajah. Ulatnya yang berwarna hijau ditutupi dengan serbuk putih mampu mencapai panjang 16 cm. Biasanya, kita dapat menemukannya di pohon sirsak yang merupakan salah satu dari banyak host plant nya. Sejatinya, nama "kupu-kupu gajah" kurang tepat bagi Attacus atlas, mengingat kedudukannya adalah sebagai moth (ngengat), bukan butterfly (kupu-kupu). Demikianlah klasifikasi Attacus atlas:
Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Ordo : Lepidoptera
Familia : Saturniidae
Genus : Attacus
Species : Attacus atlas, Linnaeus 1758
Attacus atlas mungkin adalah Lepidoptera terbesar di Asia Tenggara selain kupu-kupu asal Papua Queen Alexandra's Birdwing (Ornithoptera alexandrae). Nama genus Ornithoptera sendiri berasal dari dua kata latin, yakni ornitho dan ptera. masing-masing berarti "burung" dan "sayap", menunjukkan seolah sayapnya besar bak burung. Berbeda dengan O. alexandrae yang sudah hampir punah dan masuk daftar Appendix CITES, Attacus atlas masih sangat umum di Indonesia dan sangat mudah dipelihara, terutama untuk diambil suteranya yang konon merupakan sutra alami terbaik. Untuk percobaan di sekolah pun nampaknya jenis ini sangatlah mendukung, selain karena host plant nya yang beragam, juga karena keindahannya yang pastilah lebih menarik minat para siswa. Saya sendiri pernah menjual Attacus atlas hidup seharga Rp 125.000,- sepasang.

Monday, 16 June 2008

Di Jepang, Kumbang Pun Nangkring di Mall



Kumbang yang disini biasa diabaikan, ternyata bernasib beda di Jepang. Coba lihat di gambar ini, kumbang dijajakan di mall dengan harga yang bervariasi, tergantung ukurannya. Chalcosoma atlas berukuran 9-10 cm dijajakan seharga US$ 120, wow! Lebih dari Rp 1.000.000,-! Chalcosoma moellenkampi berukuran 4-6 cm dibanderol US$ 20 alias Rp 200.000,- an. Tentu saja banyak dari antara kumbang-kumbang tersebut yang diperoleh dari Indonesia (selain Malaysia dan Australia). Maka, tidak ada salahnya kita mulai mencoba membudidayakan kumbang. Jadikan kumbang salah satu komoditi ekspor andalan Indonesia! Ah, banyangkan saja... Ketika kita berjalan-jalan di PTC atau TP, banyak penjaja kumbang yang berebut menawarkan dagangannya...